
"Kerupuk... kerupuk..."
Suara Abah Yakup terdengar pelan di pinggir jalan. Dengan tongkat di tangannya, ia meraba setiap langkah yang akan dilalui. Di usia 90 tahun, Abah harus berjalan menyusuri jalanan demi menjajakan kerupuk titipan agar keluarganya bisa makan hari itu.

Tak banyak yang tahu, setiap langkah yang ditempuh Abah penuh risiko. Suatu hari, ia pernah nyaris tertabrak motor yang melaju kencang saat berjualan. Tubuh rentanya sempat gemetar ketakutan. Namun setelah kejadian itu, Abah tetap melanjutkan perjalanan. Kerupuk yang dibawanya belum habis terjual, sementara di rumah ada istri yang sedang sakit dan anak yang menunggu kepulangannya.
Di usia senjanya, Abah seharusnya bisa menikmati hari-hari dengan lebih tenang. Namun kenyataan berkata lain. Demi keluarga, ia masih harus bekerja meski kondisi kesehatannya terus menurun.

Sejak kecil, salah satu mata Abah mengalami gangguan penglihatan. Berbagai pengobatan pernah dijalani hingga akhirnya ia hanya bisa mengandalkan satu mata untuk melihat dunia. Mata itulah yang selama bertahun-tahun menemani perjuangannya mencari nafkah dan menjaga keluarganya.
Sayangnya, mata satu-satunya itu kemudian mengalami infeksi. Rasa sakit yang terus datang membuat Abah ingin berobat, tetapi penghasilannya yang hanya sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000 per hari dari berjualan kerupuk tidak cukup untuk biaya pengobatan. Abah hanya bisa bertahan dan berharap kondisinya membaik.
Namun harapan itu tak terwujud. Penglihatannya perlahan hilang hingga akhirnya Abah tidak bisa melihat sama sekali. Meski begitu, rasa sakit pada matanya masih sering ia rasakan hingga sekarang.
Kini Abah Yakup menjalani hari-harinya dalam kegelapan. Namun demi keluarga, ia tetap keluar rumah setiap pagi membawa kerupuk titipan untuk dijual. Dengan tongkat sebagai penuntun, ia berjalan menyusuri jalanan meski tubuhnya semakin lemah dan sering merasa nyeri akibat asam urat.
Semua itu ia lakukan demi keluarganya. Di rumah, istrinya sedang sakit dan anaknya yang berkebutuhan khusus masih membutuhkan perhatian serta biaya hidup.

Kondisi ekonomi keluarga Abah pun sangat memprihatinkan. Untuk makan sehari-hari, mereka sering hanya mampu menikmati nasi putih dan air minum seadanya. Bukan karena tidak ingin makan lebih layak, tetapi karena memang tidak ada yang mampu dibeli.
Rumah yang mereka tempati juga jauh dari kata nyaman. Dinding papan yang sudah renggang dan atap sederhana menjadi tempat mereka berteduh dari panas dan hujan.
Bayangkan harus berjalan tanpa penglihatan di tengah jalanan yang ramai, sambil membawa dagangan dan menahan rasa sakit demi keluarga yang dicintai. Itulah yang dijalani Abah Yakup setiap hari.
Mari bersama-sama membantu meringankan beban Abah Yakup. Semoga bantuan yang diberikan dapat menjadi harapan baru bagi Abah dan keluarganya untuk menjalani hari-hari yang lebih baik.
Yuk, Bantu Abah Yakup, dengan cara:
1. Klik tombol “DONASI SEKARANG”
2. Masukkan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran GO-PAY, Jenius Pay, LinkAja, DANA, Mandiri Virtual Account, BCA Virtual Account, atau transfer Bank (transfer bank BNI, Mandiri, BCA, BRI, BNI Syariah, atau kartu kredit) dan transfer ke no. rekening yang tertera.
Tidak hanya berdonasi, teman-teman juga bisa membantu dengan cara menyebarkan halaman galang dana ini ke orang-orang terdekat agar semakin banyak orang yang ikut membantu.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik