
Kita sering ngebayangin masa tua itu tenang. Bisa duduk santai di teras rumah, menikmati angin sore, ditemani orang-orang tersayang, tanpa perlu lagi pusing mikirin besok makan apa.
Tapi nyatanya, tidak semua orang bisa sampai di titik itu.
Di luar sana, masih banyak lansia yang masa tuanya bukan diisi dengan istirahat, melainkan perjuangan yang nggak ada habisnya. Setiap hari mereka bangun dengan satu pertanyaan yang sama: "Hari ini bisa makan nggak ya?"

Seperti Abah Uyang. Usianya sudah 80 tahun. Namun hampir setiap pagi, sebelum matahari naik tinggi, Abah sudah berjalan menyusuri irigasi untuk menjala ikan. Tangannya mulai gemetar, penglihatannya sudah tidak sebaik dulu, dan sering kali ia berangkat dalam keadaan perut kosong.
Istrinya sudah meninggal dunia. Tidak ada yang menyiapkan sarapan sebelum ia pergi, dan tidak ada pula yang menunggu saat ia pulang.
Kadang dari pagi sampai siang, tak seekor ikan pun berhasil didapat. Bahkan Abah pernah pusing hingga terjatuh karena menahan lapar. Kalau sedang beruntung dan ikannya laku terjual, penghasilannya hanya sekitar Rp20.000. Itu pun belum tentu setiap hari.

Selain itu, ada Emak Emis. Di usia 78 tahun, hidup masih terasa begitu berat. Selama ini Emak berjualan sapu lidi dan nasi aron keliling kampung demi menyambung hidup. Namun beberapa hari lalu, Emak terjatuh. Tangannya patah, bengkak, dan rasa sakitnya luar biasa. Sayangnya, ia tidak punya biaya untuk berobat ke dokter.
Kini Emak hanya bisa berbaring. Tidak bisa lagi berjualan. Nafsu makannya perlahan hilang karena harus menahan sakit setiap hari. Tetangga sekitar hanya mampu membantu dengan pengobatan seadanya. Hidup seorang diri. Tidak punya suami, tidak punya anak. Setiap malam ia menahan nyeri sendirian, sambil berharap ada orang baik yang mau peduli.

Lalu ada Pak Nurdin dan Bu Enok. Tiga tahun lalu, hidup mereka berubah dalam sekejap. Pak Nurdin digigit ular saat bekerja di kebun. Karena penanganan yang terlambat, kakinya harus diamputasi.
Belum selesai menerima kenyataan itu, stroke datang menyerang. Kini Pak Nurdin hanya bisa berbaring. Untuk makan saja ia kesulitan menelan nasi. Untuk kebutuhan sehari-hari, ia harus menggunakan pampers.
Semua kebutuhan keluarga ditanggung oleh Bu Enok, istrinya. Di usia 49 tahun, Bu Enok masih bekerja sebagai buruh cuci dengan upah sekitar Rp30.000 per hari. Itu pun kalau ada yang memanggilnya bekerja.
Di sela semua itu, Bu Enok masih harus memikirkan bagaimana caranya agar dapur tetap mengepul. Bahkan di rumah mereka tidak ada kasur yang layak. Hanya karpet lama yang sudah usang. Bu Enok jarang mengeluh. Tapi dari sorot matanya, terlihat jelas betapa berat perjuangan yang ia jalani setiap hari.
Empat nama. Empat cerita. Tapi memiliki satu kesamaan yang sama: mereka sedang berjuang di usia yang seharusnya sudah bisa beristirahat.
Dan mereka bukan satu-satunya. Masih banyak lansia lain yang hidup dalam keterbatasan. Yuk, temani perjuangan para lansia dhuafa. Sisihkan sedikit rezeki terbaikmu hari ini, agar mereka bisa merasakan bahwa mereka tidak sendirian.
Mari, salurkan niat baikmu dengan cara :
1. Klik tombol “DONASI SEKARANG”
2. Masukkan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran GO-PAY, Jenius Pay, LinkAja, DANA, Mandiri Virtual Account, BCA Virtual Account, atau transfer Bank (transfer bank BNI, Mandiri, BCA, BRI, BNI Syariah, atau kartu kredit) dan transfer ke no. rekening yang tertera.
Tidak hanya berdonasi, teman-teman juga bisa membantu dengan cara menyebarkan halaman galang dana ini ke orang-orang terdekat agar semakin banyak orang yang ikut membantu.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik